Tak lama, wanita inisial E turut datang mengecek mobil yang dibawanya. Kunci dan STNK diserahkannya ke E. “Terus dia (E) menelepon, tidak tahu siapa. Tidak lama, datanglah sekitar 30 sampai 50 orang mengendarai 15 sampai 20 motor,” ujarnya. “Lalu, tiba-tiba wanita itu teriak maling mobil. Dalam sekejap, kami dikepunglah seperti perampok,” sambungnya. Marwandi dihajar hingga tersungkur ke tanah. Prajurit TNI Ari yang berupaya melerai juga turut dimassa, sedangkan Y kabur menyelamatkan diri. Kedua tangannya bersama Ari diikat lalu kembali dihajar menggunakan helm dan lainnya.
“Si E itu sempat bilang jangan takut, kita keluarga jenderal. Itulah kami dihajar. Tangan kami diikat pakai kabel listrik. Di situ, ada dua TNI juga yang memukuli saya dan A ini. Padahal, A sudah bilang dia prajurit. KTA sudah dikasih tunjuk tetapi tetap dipukuli,” bebernya. Belakangan E bersama rombongannya membawa Honda WR-V tersebut beserta uang dari dompet Marwandi senilai Rp 1,2 juta.
Akibat pengeroyokan, Marwandi dan Ari mengalami luka di bagian wajah. Bahkan, A sampai saat ini masih terbaring di Rumah Sakit Putri Hijau, Medan. Marwandi akhirnya membuat laporan ke Polda Sumut dengan nomor laporan LP/STTLP/B/1212/VII/2026/SPKT/Polda Sumut. Selain itu, dia juga membuat laporan ke Denpom 1/5 Medan dengan nomor laporan: LP/20/VII/2026.










