Immanuel segera memberi kabar itu kepada E. “Itu sempat saya chat penyidik kalau mobil saya ada di sana, tapi tidak direspons,” ujar Immanuel. Ia sempat pula melaporkan ke pos sekuriti kompleks bahwa Honda WR-V miliknya yang hilang ada di salah satu rumah dalam kompleks, sembari menunjukkan bukti pelaporan di Polrestabes Medan.
Perkiraan Immanuel mulai tepat ketika didapati kabar E bersama tiga orang itu beranjak dari Binjai ke Komplek Bumi Asri. Demi menutupi pengintaiannya, Immanuel mulai memantau dari jarak jauh. “Kakak kan ngakunya naik Grab, jadi pas ke Bumi Asri dia satu mobil sama tiga orang itu. Salah satunya baju putih yang terakhir diketahui Prajurit TNI inisial (A). Sampai di lokasi, mereka masih makan dulu,” ujar Immanuel.
Selang beberapa jam, WR-V yang dikemudikan Marwandi tiba. E pun bertemu Marwandi dan diminta untuk mengecek WR-V tersebut. E lekas duduk di kursi depan mobil karena takut kendaraan itu dibawa lari lagi. Saat meminta STNK mobil, E terkejut ternyata benar bahwa mobil itu atas nama adiknya. Informasi itu segera disampaikan ke Immanuel melalui saluran telepon. Lalu, Immanuel buru-buru datang ke lokasi. “Saya sebutlah nama Mardhan. Karena saat Subhan memberikan keterangan di Polres, orang yang mencari pembeli itu Mardhan,” ujarnya. Mendengar nama itu, Marwandi diduga panik dan berupaya kabur dengan menyatakan kunci Honda WR-V ada pada E.










