Immanuel mengejar. Ternyata Marwandi diselamatkan prajurit TNI bernama Ari. “Waktu itu saya datang bersama teman enam orang. Saat terjadi keributan, datang banyak orang ikut campur. Terjadilah pemukulan,” ucap Immanuel. “Di situ, kakak saya (E) tidak ada teriak maling. Justru warga yang teriak maling. Kakak cuma bilang kunci mobil sama pria baju hitam (Marwandi). Jadi kami tidak ada memukul,” sambungnya. Tangan Marwandi dan Ari pun diikat menggunakan tali yang didapat dari warga agar tidak melarikan diri. Mendapati situasi itu, prajurit TNI, inisial L, datang untuk membantu E.
Prajurit TNI inisial L lekas mengamankan Honda WR-V, lalu mengamankan Marwandi, prajurit A, dan pria berbaju coklat berinisial DR ke lokasi yang terang. “Jadi, L tidak ada melakukan penganiayaan,” ujarnya. Selanjutnya, Marwandi dimasukkan ke mobilnya Toyota Kijang Innova, pria baju coklat di Honda WR-V, dan A di Avanza milik E.
Immanuel turut membantah pihaknya mengambil uang Marwandi Rp 1,2 juta. Selanjutnya mereka bergerak ke Denpom 1/5 Medan. Di perjalanan, Immanuel ditelepon L, bahwa dirinya ditahan lebih kurang 15 orang dan mulai dipukuli saat hendak memesan ojek online untuk kembali ke kesatuan. Alhasil, dia kembali ke Bumi Asri namun dihadang dengan sekuriti karena situasi di dalam kompleks sedang ricuh.










