Tak lama L dibantu rekannya untuk keluar dari kompleks itu yang berinisial (E). Lalu, Immanuel kembali ke Denpom untuk memberi keterangan. “Nah karena kami sebelumnya sudah buat laporan ke Polrestabes Medan soal mobil itu, ya terakhir mobil itu diserahkan ke Polrestabes,” ungkapnya. Besok harinya, Immanuel kembali ke Denpom namun dirinya mendapati mobil Innova dan pemiliknya Marwandi sudah tidak ada. Dari rangkaian peristiwa itu, Immanuel akan mengambil langkah hukum bersama kuasa hukumnya untuk menindaklanjuti perkara ini. Di lain pihak, sebelumnya diberitakan, Marwandi membantah Honda WR-V itu hasil curian.
Sebab, WR-V itu dibelinya dari seseorang yang berkomunikasi dengan Subhan pada 12 Juni 2026 seharga Rp 74 juta. “Kemarin itu jelas, ada buktinya, mobil itu saya beli dari adiknya Immanuel. Sempat saya tanya di mana pemiliknya. Tapi, katanya di Jakarta jadi disaksikan dari video call saja. Makanya tidak benar kalau itu mobil curian,” kata Marwandi melalui saluran telepon, (29/7/26) dikutip dari Kompas.com.
“Setelah dibeli, mobil itu mau saya jual lagi. Rencananya untuk pelunasan khusus, dengan maksud nanti si pembeli bisa mengajukan write-off untuk mengurus BPKB-nya. Kan tinggal saya bantu saja,” sambungnya. Pada Minggu (26/7/26), ia pun dihubungi rekannya inisial Y, bahwa ada wanita inisial E (belakangan diketahui kakak Immanuel) hendak membeli Honda WR-V BK 1168 AFL. “Dia (Y) kasih harga mobil itu Rp 110 juta kepada saya. Setelah itu janjianlah kami jumpa di lokasi,” ujarnya Marwandi. Setibanya di lokasi, Marwandi bertemu dengan Y yang saat itu bersama prajurit TNI inisial A.










