Kita tidak sedang mempertentangkan iman dengan demokrasi. Kita sedang menuntut agar nilai-nilai iman memberi jiwa pada demokrasi organisasi.
Sebab, kasih Kristus yang kita rayakan tidak boleh berhenti di mimbar, spanduk, atau tema persidangan.
Kasih itu harus hadir dalam cara kita mendengar, cara kita berbeda pendapat, cara kita menggunakan kewenangan, dan cara kita memperlakukan mereka yang tidak sependapat dengan kita.
Dan ketika suara kritik terdengar, semoga AMGPM tidak buru-buru menutup pintu.
Sebab, terkadang suara yang paling mengusik kenyamanan justru merupakan suara yang mengingatkan kita untuk kembali kepada panggilan yang sesungguhnya: melayani dengan rendah hati, menegakkan kebenaran dengan kasih, dan berjalan bersama sebagai satu tubuh Kristus.
Karena organisasi yang kuat bukan organisasi yang berhasil membungkam kritik, melainkan organisasi yang cukup dewasa untuk mendengarnya, cukup adil untuk mengujinya, dan cukup rendah hati untuk berubah ketika kritik itu terbukti benar. *










