Lalu, apa yang tersisa hari ini? Proyek itu layu sebelum mekar, terganjal alasan klasik: ketiadaan investor dan kerumitan regulasi yang diproduksi sendiri oleh pemerintah pusat. Lumbung Ikan Nasional berakhir menjadi “lumbung angan-angan”. Alih-alih memberdayakan nelayan lokal dengan teknologi penangkapan dan pendingin ( cold storage ), lautan Banda dan Arafura justru dibiarkan menjadi arena bebas bagi kapal-kapal trawl raksasa—yang sering kali berbendera asing atau milik oligarki nasional. Ikannya ditangkap di perairan Maluku, namun nilai tambahnya dicatat di Pulau Jawa atau luar negeri.
Blok Masela: Momentum atau Sekadar Seremoni?
Kini, gula-gula baru dilemparkan ke ujung tenggara Maluku. Pada 16 Juli 2026, seremoni groundbreaking Blok Masela akhirnya digelar di Tanimbar. Proyek Gas Alam Cair (LNG) bernilai US$ 20,9 miliar (sekitar Rp 330 triliun) ini kembali meniupkan terompet surga: produksi 9,5 juta ton LNG per tahun dan janji penyerapan 10.000 tenaga kerja. Namun, mari kita bedah janji ini dengan akal sehat dan data faktual. Industri hulu migas adalah industri ultra-padat modal dan padat teknologi tinggi, bukan padat karya. Pekerjaan yang tersedia menuntut spesifikasi insinyur perminyakan, ahli geofisika, hingga welder bawah laut bersertifikat internasional.










