Jika minyak mentah mulai memiliki sejumlah pilihan, kondisi berbeda terlihat pada produk olahan minyak.
Negara-negara Teluk mengirimkan hampir 5 juta barel bensin, diesel, dan bahan bakar lain melalui Hormuz pada tahun lalu. Hingga kini belum tersedia jaringan pipa darat yang dapat menggantikan jalur tersebut.
Arab Saudi memang merencanakan perluasan koridor East-West sebesar 2 juta barel per hari untuk mengangkut produk olahan. Namun, proyeknya masih berada pada tahap awal dan harus disertai perluasan Pelabuhan Yanbu.
Irak mencoba menggunakan jalan darat dengan mengirimkan minyak bakar ke Suriah melalui sekitar 1.000 truk per hari, melonjak dari hanya 10 truk sebelum perang. Cara tersebut jauh lebih lambat dan mahal dibandingkan pengiriman menggunakan kapal.
Persoalan paling rumit terdapat pada LNG yang sebagian besar diekspor oleh Qatar. Negara tersebut hampir sepenuhnya bergantung pada Hormuz dan belum memiliki proyek jalur ekspor alternatif.
Qatar secara teori dapat membangun pipa gas menuju Oman. Namun, kapasitas yang dibutuhkan akan setara dengan jaringan Nord Stream yang dahulu mengalirkan gas Rusia ke Eropa.
Pembangunan pipa saja belum cukup. Qatar juga harus membangun kompleks pencairan gas baru di pesisir Laut Arab agar LNG dapat dimuat ke kapal tanpa melewati Hormuz. Proyek tersebut akan menelan biaya sangat besar dan membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Negara importir memang dapat mencari pasokan dari kawasan lain. Harga energi yang tinggi diperkirakan dapat mendorong tambahan produksi minyak sebesar 2 juta-3 juta barel per hari dari Amerika dan wilayah lainnya. Kapasitas LNG global juga sedang mengalami ekspansi besar.
Tambahan pasokan itu perlahan akan mengurangi kemampuan Iran memengaruhi harga energi dunia. Namun, negara-negara Teluk tetap menghadapi masalah karena ketergantungan mereka terhadap Hormuz tidak hanya berkaitan dengan ekspor.***
Tak Perlu Bom Nuklir, Iran Punya Senjata yang Bikin Dunia Ketar-Ketir










