Pembangunan jaringan pipa tidak otomatis membuat ekspor energi lebih aman. Proyek di Irak masih menghadapi risiko keamanan, perselisihan lintas negara, dan keterlambatan pembangunan.
Minyak Saudi yang dikirim dari Yanbu menuju Asia juga harus melewati Selat Bab al-Mandab. Jalur sempit di dekat Yaman tersebut berada dalam jangkauan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran.
Pengalihan minyak dari Hormuz bahkan membuat penggunaan Bab al-Mandab meningkat tajam. Ekspor minyak mentah Arab Saudi melalui jalur tersebut melonjak setelah pipa East-West dioperasikan secara maksimal.
Pilihan lainnya adalah membawa minyak Saudi ke utara melalui Terusan Suez atau jaringan pipa Sumed di Mesir. Namun, rute ini juga tidak sepenuhnya aman. Pada 29 Juli 2026, sebuah drone menghantam kapal tanker di Damietta, pelabuhan yang berada dekat Terusan Suez.
Iran maupun kelompok sekutunya juga dapat menyerang jaringan pipa, pelabuhan, dan fasilitas baru yang dianggap mengurangi kekuatan Hormuz. Ancaman tersebut dapat mempertahankan tingginya biaya pembangunan, pendanaan, dan asuransi meskipun perang berakhir melalui perundingan.
Negara-negara Teluk pada akhirnya tidak benar-benar menghilangkan risiko. Mereka hanya memindahkan sebagian pengiriman dari satu jalur rawan menuju jalur rawan lainnya.
BBM dan LNG Masih Sulit Diselamatkan
Tak Perlu Bom Nuklir, Iran Punya Senjata yang Bikin Dunia Ketar-Ketir










