Dikutip dari CNBC Indonesia, sebelum perang, sekitar 16 juta barel minyak mentah melewati Selat Hormuz setiap hari. Dari seluruh komoditas yang melintasi perairan tersebut, minyak mentah memiliki pilihan jalur alternatif paling banyak.
Arab Saudi telah memaksimalkan pipa East-West yang menghubungkan kawasan produksi di timur dengan Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Alirannya meningkat dari sekitar 1 juta menjadi kapasitas penuh 7 juta barel per hari.
Namun, hanya hampir 5 juta barel per hari yang dapat langsung diekspor. Sisanya digunakan untuk memasok kilang minyak di pesisir Laut Merah.
Uni Emirat Arab (UEA) juga meningkatkan aliran pipa Habshan-Fujairah dari sekitar 1 juta menjadi 1,8 juta barel per hari. Pipa tersebut berakhir di Fujairah yang berada di luar Selat Hormuz.
Sementara itu, sekitar 200.000 barel minyak Irak per hari mulai dialirkan menuju Turki melalui jaringan pipa yang sebelumnya tidak digunakan.
Meski seluruh jalur tersebut telah dimaksimalkan, The Economist memperkirakan sekitar 10 juta barel minyak per hari masih belum mempunyai rute ekspor pengganti.
Negara-negara Teluk karena itu mempercepat pembangunan jaringan baru. UEA merencanakan pipa tambahan berkapasitas 1,8 juta barel per hari yang ditargetkan selesai pada akhir 2027.
Irak ingin meningkatkan kapasitas salah satu jaringan pipanya menjadi 1 juta barel per hari dalam waktu satu tahun. Negara tersebut juga merencanakan pipa baru berkapasitas 2,5 juta barel per hari yang menghubungkan ladang minyak di selatan dengan rute menuju Yordania, Suriah, dan Turki.
Jika seluruh proyek berjalan sesuai rencana, tambahan 5 juta barel minyak per hari diperkirakan dapat menghindari Hormuz pada 2030. Namun, masih ada sekitar 5 juta barel per hari yang tetap belum memiliki jalur alternatif.
Keluar dari Hormuz, Masuk ke Jalur Rawan Lain
Tak Perlu Bom Nuklir, Iran Punya Senjata yang Bikin Dunia Ketar-Ketir










