Oleh: Komaruddin Hidayat
Ketua Dewan Pers
Ketika Mesin Mulai Membentuk Manusia
Ada paradoks besar yang menyertai lahirnya budaya digital. Pada mulanya, manusia menciptakan mesin pintar untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan hidup, membuat pekerjaan lebih mudah, dan menghadirkan kenyamanan. Namun, perlahan-lahan, hubungan itu berbalik arah. Mesin yang semula diciptakan untuk membantu manusia mulai ikut menentukan bagaimana manusia berpikir, memilih, dan berperilaku.
Manusia menciptakan algoritma—yang namanya diambil dari ilmuwan besar Muslim, Al-Khawarizmi—untuk membantu menganalisis persoalan dan mengambil keputusan. Namun dalam perkembangannya, tanpa selalu kita sadari, sebagian keputusan itu justru diserahkan kembali kepada algoritma. Ia memantau, mempelajari, merekomendasikan, bahkan mengarahkan apa yang sebaiknya kita lakukan.
Manusia menciptakan kecerdasan buatan untuk membantu kerja otak dan pikiran. Tetapi perlahan muncul kecenderungan baru: kecerdasan buatan justru menjadi sandaran yang menggantikan sebagian kerja otak dan pikiran manusia.
Di titik inilah muncul sosok baru yang dapat disebut algo sapiens, sebuah istilah yang menggambarkan manusia yang secara biologis tetap homo sapiens, tetapi semakin banyak pola pikir dan perilakunya dibentuk oleh algoritma.










