BeritaNasionalOpiniUtama

Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin

22
×

Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin

Sebarkan artikel ini

Persoalannya bukan semata-mata apakah kita masih bisa memilih. Kita memang masih bisa memilih. Persoalannya adalah: siapa yang menyusun ruang tempat kita memilih?

Pertanyaan ini menjadi penting jika kita membaca pemikiran Shoshana Zuboff dalam The Age of Surveillance Capitalism (2018). Zuboff menjelaskan bagaimana pengalaman manusia dapat diekstraksi menjadi data perilaku (behavioral data), kemudian diolah untuk menghasilkan prediksi mengenai apa yang mungkin dilakukan seseorang sekarang, beberapa saat lagi, atau pada masa mendatang.

Prediksi tersebut kemudian memiliki nilai ekonomi melalui apa yang disebut Zuboff sebagai behavioral futures markets. Dalam sistem semacam ini, manusia bukan sekadar pengguna teknologi. Pengalaman, kebiasaan, perhatian, dan perilakunya sekaligus menjadi bahan baku bagi sistem digital.

Baca Juga  Sekkot Ambon: Ruh Pelayanan Publik Harus Berlandaskan Pancasila

Kita menghasilkan data ketika mencari sesuatu di mesin pencari, menggunakan media sosial, bergerak membawa telepon pintar, berbelanja secara daring, menonton video, berbicara dengan perangkat digital, bahkan ketika berhenti beberapa detik lebih lama pada sebuah gambar dibandingkan gambar lainnya.

Aktivitas sehari-hari yang tampak sepele itu meninggalkan jejak. Semakin banyak jejak yang tersedia, semakin besar kemampuan sistem membaca pola perilaku manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *