BeritaNasionalOpiniUtama

Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin

24
×

Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin

Sebarkan artikel ini

Kecemasan semacam itu pada gilirannya dapat melemahkan solidaritas dan membuat manusia semakin terisolasi—merasa sendirian justru ketika berada di tengah keramaian.

Jika pemikiran Han diletakkan berdampingan dengan Zuboff dan Foer, kita menemukan sebuah rangkaian persoalan yang saling berhubungan.

Zuboff menjelaskan bagaimana manusia semakin intensif dipantau dan dipetakan melalui data. Foer mengingatkan tentang terancamnya otonomi pikiran. Han menunjukkan kondisi eksistensial manusia yang semakin cemas dan kesepian.

Ketiganya bertemu pada satu pertanyaan mendasar:

Apa yang terjadi ketika manusia semakin kehilangan kemampuan untuk mengendalikan hidupnya sendiri, sementara pada saat yang sama semakin sulit menemukan makna dan tujuan hidupnya?

Mengembalikan Manusia kepada Dirinya

Teknologi digital memang membuat informasi semakin mudah diperoleh. Namun kemudahan memperoleh informasi tidak selalu berarti bertambahnya pengetahuan, apalagi kebijaksanaan.

Baca Juga  Samil Rahareng Soroti Dasar Perdes dalam Pungutan Nelayan Andon di Tanimbar

Kita justru semakin sulit membedakan antara informasi yang benar-benar kita cari dan informasi yang sengaja dihadirkan kepada kita. Apa yang semula terasa sebagai kemudahan dapat berubah menjadi kebiasaan. Kebiasaan dapat berubah menjadi ketergantungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *