Sebab persoalannya pada akhirnya bukan siapa yang lebih pintar: manusia atau mesin. Persoalan yang jauh lebih penting adalah siapa yang menjadi subjek dalam menentukan arah kehidupan manusia.
Kita boleh menggunakan algoritma untuk memperluas kemampuan manusia, tetapi jangan sampai algoritma menentukan seluruh horizon kehidupan manusia.
Teknologi seharusnya memperbesar kebebasan, bukan menyamarkannya.
Kecerdasan buatan seharusnya membantu manusia mengambil keputusan, bukan perlahan-lahan membuat manusia lupa bagaimana cara mengambil keputusan.
Sebab ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merenung, meragukan, membayangkan, berempati, berharap, dan memilih jalan hidup secara sadar, yang hilang bukan sekadar privasi.
Yang dipertaruhkan adalah sesuatu yang jauh lebih mendasar: otonomi, tanggung jawab, dan pada akhirnya, esensi kemanusiaan itu sendiri.*










