Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Kota Ambon menyoroti kinerja Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon dalam mitigasi dan peringatan dini potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Maluku.
Ketua PC IMM Kota Ambon, Basyir Tuhepaly, menilai sistem mitigasi dan koordinasi yang dilakukan BMKG Pattimura belum berjalan secara optimal. Sorotan tersebut menyusul keluarnya peringatan dini potensi Karhutla pada 2 Oktober 2026, sementara kebakaran hutan dan kebun rakyat sebelumnya telah meluas di sejumlah wilayah Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Timur (SBT).
Basyir menilai peringatan dini semestinya menjadi bagian dari langkah antisipatif sebelum kebakaran meluas, bukan baru disampaikan setelah masyarakat mengalami dampak.
“Mitigasi itu dilakukan sebelum bencana, bukan setelah. Ketika kebun pala dan cengkeh rakyat sudah hangus dan petani mengalami kerugian besar, baru BMKG merilis peta potensi Karhutla dengan status sangat tinggi. Ini yang kami pertanyakan,” tegas Basyir di Ambon, Jumat (3/10/2026).
Menurutnya, informasi yang dipublikasikan BMKG justru menunjukkan bahwa instrumen pemantauan dan pemetaan potensi Karhutla sebenarnya tersedia. Dalam infografis BMKG tertanggal 2 Oktober 2026, sebagian besar wilayah daratan Maluku disebut berada pada tingkat kerawanan tinggi hingga sangat tinggi berdasarkan pemetaan SPARTAN.










