Algo sapiens bukanlah manusia yang berubah menjadi robot. Ia tetap memiliki tubuh biologis, emosi, keinginan, agama, keluarga, dan kehidupan sosial. Namun metode dan kebiasaan berpikirnya mengalami perubahan. Semakin banyak keputusan dalam hidupnya dibentuk oleh sistem algoritmik: apa yang dibaca, apa yang ditonton, barang apa yang dibeli, berita apa yang dipercaya, bahkan apa yang dianggap penting.
Ironisnya, meskipun sebagian hidupnya diarahkan dari luar, ia tetap merasa bebas. Sebab, algoritma tidak bekerja seperti polisi yang berdiri di persimpangan sambil meniup peluit dan memberikan perintah. Kekuasaan algoritmik bekerja jauh lebih halus: ia tidak memaksa, tetapi menawarkan; tidak mengancam, tetapi membujuk; tidak selalu mengatakan apa yang harus dilakukan, tetapi menyusun pilihan yang tersedia di hadapan kita.
Dari Perintah Menuju Bujuk Rayu
Selama ribuan tahun, manusia membangun peradaban dengan bertumpu pada kemampuan berpikir dan memilih. Kebebasan tentu tidak berarti manusia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya. Kebebasan berarti manusia memiliki ruang untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut.
Teknologi digital memperkenalkan bentuk kekuasaan yang berbeda. Kekuasaan lama bekerja melalui perintah: “Lakukan ini atau itu!” Sementara teknologi digital hadir dengan bujuk rayu yang jauh lebih halus: “Saya tahu apa yang Anda sukai, saya memahami kebiasaan Anda, dan saya memiliki saran tentang apa yang mungkin Anda butuhkan.”










