Ia cukup mengatur lingkungan pilihan.
Kita masih dapat memilih, tetapi pilihan yang muncul di hadapan kita telah disusun. Kita masih dapat membaca, tetapi bacaan yang muncul paling awal telah dipilih berdasarkan sistem rekomendasi. Kita masih dapat menonton apa saja, tetapi apa yang muncul berikutnya sering kali telah diperkirakan dari perilaku kita sebelumnya.
Karena itu, kekuasaan algoritmik tidak selalu hadir dalam bentuk larangan. Ia dapat bekerja melalui penyediaan pilihan yang terasa relevan, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan kita.
Justru karena terasa nyaman, ia mudah diterima.
Di sinilah paradoksnya: sesuatu yang membuat hidup lebih mudah pada saat yang sama dapat membuat manusia semakin jarang menggunakan kemampuan memilih secara sadar.
Masyarakat yang Cemas
Kemajuan teknologi yang luar biasa ternyata tidak otomatis menghapus kecemasan manusia. Perasaan senang, kecewa, cemas, jatuh cinta, bahagia, takut kehilangan, dan berharap merupakan pengalaman manusiawi yang tidak serta-merta dapat digantikan oleh mesin secanggih apa pun.
Dalam The Anxious Society, Byung-Chul Han membaca zaman kita sebagai zaman yang diliputi kecemasan: takut gagal, takut tertinggal, takut tersingkir, takut kehilangan masa depan, dan takut kehilangan kendali atas kehidupan sendiri.










