Pada titik tertentu, ketergantungan tersebut berpotensi melemahkan kapasitas manusia sebagai homo sapiens.
Daya ingat tidak lagi dilatih karena semua hal dapat dicari. Daya analisis dapat menjadi tumpul karena mesin selalu menyediakan jawaban. Pengalaman memilih dan mengalami kesalahan menjadi semakin jarang karena sistem berusaha memberikan pilihan yang dianggap paling sesuai dengan pola perilaku kita.
Padahal manusia justru belajar melalui kesalahan.
Manusia menjadi manusia karena mampu bertanya, meragukan, mengingat, melupakan, gagal, mencoba kembali, mencari jawaban, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Kecerdasan buatan mungkin memiliki intelligence yang semakin tinggi. Tetapi kecerdasan tidak identik dengan kebijaksanaan.
Algoritma bekerja berdasarkan data dan pola. Ia dapat membaca masa lalu untuk memprediksi masa depan. Manusia memiliki kemampuan yang lebih unik: memutus pola.
Manusia mengenal pertobatan. Manusia dapat berkata, “Saya pernah memilih jalan ini, tetapi sekarang saya ingin memilih jalan yang lain.” Manusia dapat membayangkan sesuatu yang belum pernah terjadi, berharap pada sesuatu yang belum terlihat, dan mengubah dirinya berdasarkan kesadaran moral.
Mesin dapat membantu manusia berpikir, tetapi tidak seharusnya mengambil alih seluruh proses berpikir manusia.










