“Makanya, pada Agustus pembayaran tersebut memang belum terlihat. Artinya, pembayaran subsidi masih belum seluruhnya dilakukan,” katanya. Di sisi lain, besarnya belanja pemerintah belum sepenuhnya menghasilkan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dikutip dari KONTAN, menurut Juniman, belanja pemerintah masih banyak mengalir ke sektor non-tradable, sementara sektor tradable seperti pertanian dan manufaktur belum mendapatkan dorongan yang sebanding. Program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Merah Putih, dan Sekolah Rakyat juga dinilai lebih bersifat konsumtif.
Sementara itu, hilirisasi yang didorong pemerintah cenderung bersifat capital intensive sehingga penyerapan tenaga kerja relatif terbatas. Kondisi serupa terjadi di sektor pertanian yang semakin banyak menggunakan mesin dan teknologi produksi. “Belanja pemerintah tumbuh 21,05% yoy di kuartal kedua, tapi ekonomi kita hanya tumbuh sekitar 5% yoy,” ujar Juniman.
Peran Swasta Perlu Diperkuat
Juniman menilai terbatasnya dampak belanja pemerintah juga berkaitan dengan kecilnya peran swasta dalam berbagai program ekonomi pemerintah. Kontribusi government spending hanya sekitar 6% terhadap PDB. Sementara itu, konsumsi rumah tangga mencapai hampir 54% PDB, sehingga penguatan daya beli masyarakat menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan.















