Saya pernah menulis pada 8 September 2025, ketika Sri Mulyani dicopot dari jabatan Menteri Keuangan. Judulnya โ๐ฅ๐๐ฆ๐๐จ๐๐๐๐: ๐๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐๐ฒ๐ฟ๐ฟ๐ฎ๐ฟ๐ถ ๐ธ๐ฒ ๐ฃ๐ฎ๐ท๐ฒ๐ฟ๐ผ.โ Saat itu, lima menteri diganti, termasuk Sri Mulyani, menteri keuangan yang menjadi jimat dua periode Jokowi. Saya menyebut Sri sebagai Ferrari: cepat, presisi, disiplin, tetapi membutuhkan jalan yang tertata. Purbaya saya gambarkan sebagai Pajero: lebih tangguh, lebih berani masuk jalan rusak, dan lebih cocok untuk menghadapi medan politik yang keras.
Dulu saya mengira ini hanya soal pergantian gaya. Ferrali di ganti Pajero. Ternyata tidak sesederhana itu. Hari ini, 14 September 2026, Prabowo mengganti Purbaya dengan Suahasil Nazara – orang lama Kementerian Keuangan yang sebelumnya wakil menteri. Purbaya hanya bertahan satu tahun enam hari.
Ingat cara Sri Mulyani dicopot setahun lalu? Tanpa terima kasih. Tanpa transisi. Tanpa fatsoen. Cara Purbaya dicopot hari ini? Sama. Bedanya, kali ini lebih cepat, lebih sunyi, dan lebih brutal. Seorang menteri yang mengelola APBN selama setahun diperlakukan seolah tidak pernah ada. Pemecatan adalah hak prerogatif presiden. Tidak ada yang mempertanyakan itu. Tetapi cara menjalankan hak prerogatif itu mencerminkan karakter rezim.













