Persoalannya sederhana. Kalau belanja ingin besar, uang harus tersedia. Kalau pajak tidak dinaikkan, defisit tidak boleh melebar, dan utang harus dijaga, uangnya dari mana? Ini bukan teori ekonomi. Ini matematika sederhana. Uang negara tidak muncul karena Presiden menginginkannya. Danantara kemudian menjadi penting. Pemerintah ingin Danantara tumbuh menjadi lembaga investasi negara raksasa. Gampangnya, Danantara ingin menjadi semacam โtabungan investasi negaraโ: aset dan keuntungan dikumpulkan, lalu diputar untuk menghasilkan keuntungan lebih besar.
Tetapi pemerintah juga membutuhkan uang untuk membiayai program sekarang. Di situlah kepentingannya bisa bertabrakan. Danantara ingin uangnya diputar untuk masa depan. Pemerintah membutuhkan uang untuk membiayai hari ini. Menteri Keuangan berada tepat di tengah-tengahnya. Sri Mulyani menghadapi persoalan itu dengan cara berbeda. Ia dikenal sangat disiplin menjaga APBN. Ia menjadi semacam rem ketika pemerintah ingin bergerak terlalu cepat.
Purbaya datang dengan karakter berbeda. Ia lebih berani mendorong pertumbuhan dan mencari ruang agar pemerintah bisa bergerak lebih cepat. Untuk beberapa waktu, pendekatan itu terlihat berhasil. Tetapi menjadi Menteri Keuangan bukan hanya soal membuat ekonomi tumbuh. Ia juga harus menjaga agar pasar percaya, rupiah tidak terguncang, defisit terkendali, dan APBN tetap dipercaya. Ketika semua kepentingan itu bertabrakan, Menteri Keuangan berada dalam posisi paling sulit.













