Scroll untuk baca artikel
Link Banner
Link Banner
BeritaEkonomiNasionalOpiniUtama

๐—ง๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—ช๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ต, ๐—ฆ๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—ž๐—ฒ๐—ฏ๐—ผ๐—ต๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป

16
×

๐—ง๐—ถ๐—ด๐—ฎ ๐—ช๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ต, ๐—ฆ๐—ฎ๐˜๐˜‚ ๐—ž๐—ฒ๐—ฏ๐—ผ๐—ต๐—ผ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป

Sebarkan artikel ini
Para Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, Purbaya dan Nazara - internet
Link Banner

Tidak ada alasan resmi yang mengatakan Purbaya gagal. Bahkan angka pertumbuhan ekonomi pada masa awal jabatannya tidak buruk. Pertumbuhan mencapai 5,39% pada kuartal IV 2025 dan naik menjadi 5,61% pada kuartal I 2026. Defisit 2025 juga berada di 2,81% dari PDB. Jadi, kalau ukurannya sekadar angka, sulit mengatakan Purbaya gagal.

Lalu mengapa dia diganti?

Begini ceritanya: Beberapa waktu sebelum pencopotan, Purbaya mengungkap bahwa Danantara keberatan menyerahkan sekitar Rp120 triliun kepada pemerintah. Purbaya juga menyebut adanya perintah Presiden terkait dana tersebut. Tidak lama kemudian, Purbaya dicopot. Kita tentu tidak boleh mengatakan bahwa itulah penyebab pencopotan, karena pemerintah belum mengatakan demikian. Tetapi waktunya terlalu dekat untuk diabaikan.

Baca Juga  Wattimena: Perubahan APBD 2026 Harus Sesuai Kondisi dan Kebutuhan Daerah

Sekarang kita lihat persoalan yang lebih besar. Prabowo ingin pertumbuhan ekonomi tinggi. Ia punya banyak program besar: MBG, KDMP, pembangunan, investasi, hilirisasi, Danantara, dan berbagai agenda lainnya. Semua membutuhkan uang. Masalahnya, pemerintah juga ingin menjaga defisit tetap di bawah 3 persen. Pemerintah tidak ingin pajak dinaikkan terlalu tinggi. Pemerintah juga tidak ingin rupiah melemah dan investor kehilangan kepercayaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *