Sri Mulyani menutupi kebohongan itu dengan disiplin. Dia bertahan karena dia cukup kuat untuk menahan. Purbaya mencoba membuka kebohongan itu dengan ekspansi. Dia bertahan sebentar, lalu jatuh karena mengucapkannya terlalu terang. Suahasil akan menutupi kebohongan itu dengan senyum. Dia tahu aturannya. Dia akan mengatakan “defisit di bawah 3 persen” tanpa pernah menjelaskan bagaimana caranya.
Itulah satu kebohongan itu. Tiga wajah. Satu kepura-puraan yang sama. Suahasil adalah wajah ketiga. Begitu dilantik, pesan yang keluar sangat sederhana: APBN harus kredibel dan defisit dijaga di bawah 3 persen. Tidak ada pidato panjang tentang mengejar pertumbuhan 6 persen. Tidak ada perdebatan terbuka soal Danantara. Pesannya justru menenangkan. Pasar menyukai kalimat seperti itu.
Maka saya melihat pergantian ini bukan sekadar โPurbaya diganti Suahasil.โ Ada sesuatu yang lebih besar. Pemerintah tampaknya sedang mengubah cara berbicara tentang ekonomi. Dari โbagaimana kita bisa bergerak lebih cepat?โ kembali menjadi โbagaimana kita menjaga agar APBN tetap dipercaya?โ Dan itu membawa kita kembali kepada tulisan saya setahun lalu. Saya menulis Ferrari ke Pajero karena melihat adanya perbedaan karakter antara Sri Mulyani dan Purbaya.













