Sekarang saya sadar, persoalannya bukan Ferrari atau Pajero. Persoalannya adalah siapa yang memegang setir, ke mana kendaraan diarahkan, dan siapa yang harus membayar bensinnya. Presiden menentukan tujuan dan kecepatannya. Menteri Keuangan mencari uangnya. Pasar menilai apakah perjalanan itu masuk akal. Rakyat membayar akibatnya.
Karena itu, saya tidak akan mengatakan Purbaya gagal. Angkanya tidak mendukung kesimpulan sesederhana itu. Saya juga tidak akan mengatakan Suahasil pasti lebih hebat. Itu juga belum terbukti. Tetapi ada satu hal yang semakin jelas. Menjadi Menteri Keuangan bukan hanya soal pandai menghitung. Ia juga harus tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan terutama kapan angka tidak boleh bertentangan dengan keinginan politik.
Purbaya mungkin tidak kalah dalam menghitung. Ia mungkin hanya kalah dalam satu hal: mengatakan terlalu terang apa yang sedang terjadi di balik angka. Kalau itu benar, maka ada ironi besar di sini. Purbaya mungkin bukan sedang menerima azab rezim Prabowo. Ia justru mungkin sedang diselamatkan dari azab berikutnya.
Karena kalau janji terlalu banyak, uang terbatas, defisit harus dijaga, pajak tidak ingin dinaikkan, Danantara ingin terus berkembang, sementara semua program harus tetap berjalan, pada akhirnya seseorang harus menjelaskan ketika angka-angka itu tidak lagi bisa dipaksa cocok. Dan biasanya orang itu adalah Menteri Keuangan.













