Scroll untuk baca artikel
Link Banner
Link Banner
BeritaNasionalOpiniUtama

Pudarnya Kearifan Lokal

37
×

Pudarnya Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini
Link Banner

Melakukan korupsi terasa lebih mudah dan ringan dilakukan karena korban yang dirugikan tidak hadir secara konkret di depan mata. Uang rakyat dan uang negara dirasakan sebagai realitas yang abstrak

Moralitas komunal mengajarkan kesetiaan kepada keluarga, kelompok, suku dan komunitas. Etika birokrasi menuntut pemahaman dan penghayatan untuk setia dan menjaga bersama kepentingan publik yang lebih luas. 

Link Banner

Dengan demikian bisa jadi seseorang sangat jujur dan setia kepada keluarganya, tetapi tidak merasa bersalah ketika memberikan proyek negara kepada saudaranya atau tetangga sekampungnya. 

Di sini terdapat wilayah abu-abu yang mengantarkan munculnya nepotisme dan primordialisme karena kegagalan kita semua melakukan transformasi kearifan lokal ke dalam sistim dan etika birokrasi moderen. 

Baca Juga  Tanahnahu dan Ujian Keadilan Agraria di Maluku: Ketika Hukum Harus Berdiri di Sisi Masyarakat 

Konsep gotong royong yang aslinya bagus, saling bantu-membantu, lalu berubah menjadi praktik korupsi berjamaah ketika dibawa ke ranah birokrasi. Diduga kuat, korupsi yang dilakukan secara gotong royong, terlebih melibatkan orang kuat, tidak mudah ditangkap karena para pelakunya saling melindungi yang lain. Nilai gotong-royong dan solidaritas berubah menjadi kolusi. Kalau ketahuan yang dikurbankan biasanya staf bawahannya. (BERSAMBUNG) 

Link Banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *