Melakukan korupsi terasa lebih mudah dan ringan dilakukan karena korban yang dirugikan tidak hadir secara konkret di depan mata. Uang rakyat dan uang negara dirasakan sebagai realitas yang abstrak
Moralitas komunal mengajarkan kesetiaan kepada keluarga, kelompok, suku dan komunitas. Etika birokrasi menuntut pemahaman dan penghayatan untuk setia dan menjaga bersama kepentingan publik yang lebih luas.
Dengan demikian bisa jadi seseorang sangat jujur dan setia kepada keluarganya, tetapi tidak merasa bersalah ketika memberikan proyek negara kepada saudaranya atau tetangga sekampungnya.
Di sini terdapat wilayah abu-abu yang mengantarkan munculnya nepotisme dan primordialisme karena kegagalan kita semua melakukan transformasi kearifan lokal ke dalam sistim dan etika birokrasi moderen.
Konsep gotong royong yang aslinya bagus, saling bantu-membantu, lalu berubah menjadi praktik korupsi berjamaah ketika dibawa ke ranah birokrasi. Diduga kuat, korupsi yang dilakukan secara gotong royong, terlebih melibatkan orang kuat, tidak mudah ditangkap karena para pelakunya saling melindungi yang lain. Nilai gotong-royong dan solidaritas berubah menjadi kolusi. Kalau ketahuan yang dikurbankan biasanya staf bawahannya. (BERSAMBUNG)















