Scroll untuk baca artikel
Link Banner
Link Banner
BeritaNasionalOpiniUtama

Pudarnya Kearifan Lokal

28
×

Pudarnya Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini
Link Banner

Oleh: Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers

BAGIAN I 

Sejak kecil duduk di bangku Sekolah Rakyat sampai menjadi mahasiswa, saya percaya bahwa tradisi lokal dari masing-masing suku bangsa Indonesia memiliki budaya luhur yang mengajarkan manusia untuk hidup bermartabat, sebagai modal sosial dan pilar budaya untuk membangun bangsa dan negara yang berkeadaban. 

Link Banner

Indonesia bukanlah bangsa berdasar suku (ethnic nation) tetapi dibangun berdasarkan nilai-nilai dan cita luhur luhur yang bersifat universal (civic nation)  sebagaimana disarikan dalam Pancasila yang diambil dari kearifan lokal. 

Setelah mengenal dan bergaul dekat dunia birokrasi dan politik, kepercayaan saya tadi menjadi buyar. Saya masih ingat, masyarakat Jawa mengenal budaya unggah-ungguh, tepa selira, dan gotong royong. 

Baca Juga  Tanahnahu dan Ujian Keadilan Agraria di Maluku: Ketika Hukum Harus Berdiri di Sisi Masyarakat 

Teman dari Minang mengenalkan pepatah Minangkabau, dima bumi dipijak, di sinan langik dijunjuang, yaitu kemampuan menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial tanpa kehilangan martabat. 

Lalu teman dari Bugis mengenalkan siri’ na pacce, menjaga nilai kehormatan dan solidaritas. Sementara masyarakat Bali memegang prinsip Tri Hita Karana, harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. 

Lalu ke timur lagi, masyarakat Maluku memegang nilai kehidupan pela gandong yang mengandung makna: kita semua bersaudara, meskipun berbeda agama, kampung dan asal-usul. 

Link Banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *