Scroll untuk baca artikel
Link Banner
Link Banner
BeritaNasionalOpiniUtama

Pudarnya Kearifan Lokal

35
×

Pudarnya Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini
Link Banner

Jika ada orang yang dikenal suka berbohong, mencuri, atau mengingkari janji, sangsi sosialnya langsung dirasakan. Dalam komunitas tradisional, seorang kepala desa, tokoh adat, atau pemimpin masyarakat yang pertama dinilai adalah integritas dan keteladanannya. Bukan jabatan formal dan titelnya. 

Tetapi sekarang bangunan kearifan lokal itu roboh dan patah. Banyak putra daerah yang menempuh karir di ranah politik dan birokrasi perilakunya berubah drastis. Yang dihadapi adalah struktur kekuasaan, proyek, dan jumlah anggaran yang sangat besar, yang sama sekali tidak terbayangkan oleh warga daerah. 

Link Banner

Ketika bekerja di tengah jejaring birokrasi, seseorang tidak lagi berhadapan dengan tetangga, kerabat, atau tokoh adat. Hubungan sosial yang terbangun berubah menjadi  formal dan impersonal. Bahkan saling menjegal dan menikam. 

Baca Juga  Merajut Kembali Tali Persaudaraan: Ketua DPW NasDem Maluku Bantu Warga Patahuwe dan Lisabata Pasca-Insiden

Ketika pulang kampung, mereka yang suka melakukan korupsi itu pasti terlihat santun, baik hati, suka membantu tetangga, alih-alih mengambil sesuatu milik tetangganya. Di samping karena sudah kaya, dia takut sangsi sosial dan malu bertatap muka dengan wajah orang yang dirugikan. 

Sikap demikian  berbeda sekali ketika koruptor mengambil miliaran rupiah dari anggaran negara tanpa pernah melihat langsung wajah rakyat yang kehilangan haknya. Jarak psikologis inilah yang sering kali menjadi penyebab awal pudarnya moral yang berakar pada kearifan lokal. 

Link Banner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *