Jika ada orang yang dikenal suka berbohong, mencuri, atau mengingkari janji, sangsi sosialnya langsung dirasakan. Dalam komunitas tradisional, seorang kepala desa, tokoh adat, atau pemimpin masyarakat yang pertama dinilai adalah integritas dan keteladanannya. Bukan jabatan formal dan titelnya.
Tetapi sekarang bangunan kearifan lokal itu roboh dan patah. Banyak putra daerah yang menempuh karir di ranah politik dan birokrasi perilakunya berubah drastis. Yang dihadapi adalah struktur kekuasaan, proyek, dan jumlah anggaran yang sangat besar, yang sama sekali tidak terbayangkan oleh warga daerah.
Ketika bekerja di tengah jejaring birokrasi, seseorang tidak lagi berhadapan dengan tetangga, kerabat, atau tokoh adat. Hubungan sosial yang terbangun berubah menjadi formal dan impersonal. Bahkan saling menjegal dan menikam.
Ketika pulang kampung, mereka yang suka melakukan korupsi itu pasti terlihat santun, baik hati, suka membantu tetangga, alih-alih mengambil sesuatu milik tetangganya. Di samping karena sudah kaya, dia takut sangsi sosial dan malu bertatap muka dengan wajah orang yang dirugikan.
Sikap demikian berbeda sekali ketika koruptor mengambil miliaran rupiah dari anggaran negara tanpa pernah melihat langsung wajah rakyat yang kehilangan haknya. Jarak psikologis inilah yang sering kali menjadi penyebab awal pudarnya moral yang berakar pada kearifan lokal.















