KETIGA, MENAMBAH TRAYEK TIDAK CUKUP HANYA DENGAN MENAMBAHKAN NAMA PELABUHAN.
Kadang-kadang katong berpikir: “Kenapa seng tambah trayek baru saja?” Atau: “Kenapa kapal itu seng singgah di pulau katong?” Pertanyaan itu wajar. Tetapi membuka trayek baru berarti harus memperhitungkan ketersediaan armada kapal. Kalau jumlah kapal tetap sementara trayek dan pelabuhan singgah terus ditambah, kapal yang sama harus menempuh perjalanan semakin panjang. Akibatnya waktu satu voyage atau satu perjalanan menjadi lebih lama.
Kalau sebelumnya kapal bisa kembali ke suatu pulau dalam waktu tertentu, dengan penambahan terlalu banyak pelabuhan singgah tanpa tambahan kapal, waktu tunggu masyarakat bisa menjadi semakin panjang. Jadi jangan sampai katong berhasil menambah banyak titik pelayanan, tetapi frekuensi kapal justru semakin berkurang.
KEEMPAT, TAMBAH KAPAL BERARTI TAMBAH ANGGARAN.
Mengoperasikan satu Kapal Perintis membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bukan hanya bahan bakar. Ada biaya awak kapal, operasional, pemeliharaan, perawatan mesin, docking, aspek keselamatan, kebutuhan pelabuhan dan berbagai komponen lainnya agar kapal tetap laik dan aman melayani masyarakat.
Karena pelayanan Kapal Perintis merupakan pelayanan ke wilayah yang secara komersial belum tentu menguntungkan, maka kehadiran negara melalui dukungan anggaran menjadi sangat penting. Inilah hakikat pelayanan perintis. Negara hadir bukan semata-mata menghitung untung dan rugi, tetapi untuk memastikan masyarakat di pulau-pulau tetap memiliki akses transportasi.










