Oleh Abe Yanlua
Dosen Hukum Universitas Pattimura di Kepulauan Aru
Langit mulai gelap. Sebuah novel tengah menemaniku, entah sudah berapa lama sepasang kekasih itu duduk tidak terlalu jauh dari tempatku. Jam menunjukkan pukul 16.00 waktu Dobo. Aku menutup bacaanku, bergegas meninggalkan pantai. Sepintas rembulan terlihat dari balik gelagak awan, dan cuaca terlihat sangat baik, namun dingin tetap saja menggigit.
Mereka yang pernah membaca novel kriminal karya Keigo Higashino, The Devotion of Suspect X, pasti sangat mengenal sang genius matematika Yasuki Ishigami yang berhasil mengecoh kepolisian dengan sebuah trik psikologis yang brilian: ia membuat detektif sibuk memecahkan teka-teki yang salah. Ishigami mengubah sebuah persoalan inti menjadi ilusi lain, memaksa para penyelidik menghabiskan energi untuk mengurai benang kusut tiruan, sementara akar masalah yang sebenarnya tetap tersembunyi rapat di balik layar.
Logika premis ala novel Higashino ini tampaknya sedang beroperasi secara sempurna di dalam Kabupaten Kepulauan Aru dalam membaca konflik sosial di wilayahnya. Ketika ketegangan antarkampung atau pergolakan warga pecah di Bumi Jargaria, ironisnya, terjadi kebutaan dalam membedakan mana akar masalah di permukaan (symptom) dan mana akar masalah yang sebenarnya (disease). Bupati dan jajaran pemerintahannya dengan sangat tangkas meyakini premis masalahnya sekadar “krisis moral”, “sentimen komunal”, “pertikaian personal”, atau “kenakalan remaja”. Padahal, konflik ini sejatinya merupakan persoalan ekonomi-politik struktural yang direduksi sedemikian rupa. Kita dipaksa sibuk menyelesaikan konflik di permukaan, tanpa menyelesaikan akar-akar konfliknya.










