Kalau tujuannya benar-benar untuk ekonomi, langkah pertama adalah “bereskan rumah”. Audit, restrukturisasi, ganti direksi yang tidak becus. Tapi kalau langsung loncat ke “bikin baru”, maka publik berkesimpulan tujuannya bukan membenahi, tapi mencari lahan baru.
BAHAYANYA: KONTRA-PRODUKTIF DAN MERUSAK KEPERCAYAAN
Di saat rakyat disuruh hemat, kita malah menambah pos belanja besar. Gaji direksi, komisaris, operasional, kantor. Ujungnya membebani APBD. Bukan menambah PAD. Ini ibarat orang yang gajinya pas-pasan dan punya utang kartu kredit, tapi malah kredit mobil baru (menambah masalah, bukan menyelesaikan masalah).Yang lebih berbahaya dari kerugian uang adalah kerugian kepercayaan. Pesan ke Rakyat : Kita harus hemat. Tidak ada anggaran. Pesan ke Birokrasi : Kita akan bentuk 5 BUMD baru dengan puluhan jabatan.
Rakyat tidak bodoh. Rakyat bisa melihat. Mereka akan berpikir: “Ternyata hemat itu hanya untuk kami. Untuk mereka, tetap bisa tambah”. Sekali kepercayaan itu retak, maka semua program pemerintah ke depan akan dicurigai. Mau program bagus apapun, rakyat akan bertanya dulu: (Ini untuk siapa? Ada udang di balik batu?). Kalau rakyat disuruh ikat pinggang, maka pemerintah juga harus ikat pinggang. Bukan malah tambah lubang ikat pinggang baru.










