Ketua Umum ICMI, Arif Satria menjelaskan, Teknologi, tidak boleh hanya berkembang sebagai pencapaian teknis. Salah satu sektor yang dinilai membutuhkan dukungan tersebut adalah UMKM.
Dengan cara itu, riset dan inovasi dapat diterjemahkan menjadi produk, layanan, maupun model usaha yang memiliki nilai tambah. “Tantangan kita adalah bagaimana mengombinasikan teknologi canggih dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.
Seorang cendekiawan, menurutnya, tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual maupun gelar akademik. Ia secara khusus menyoroti potensi kelautan Maluku yang dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan melalui riset dan inovasi.
Dirinya mendorong terbangunnya kolaborasi yang lebih kuat antara ICMI Maluku, Universitas Pattimura, Universitas Islam Negeri, perguruan tinggi lainnya, pemerintah daerah dan BRIN.
Arif menyebut keberadaan satuan kerja BRIN di Ambon yang berfokus pada penelitian laut dalam sebagai salah satu modal penting dalam membangun ekosistem riset kelautan di Maluku.
“Maluku memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar dan sangat potensial. Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dapat dikelola menjadi sumber kemakmuran bagi masyarakat Maluku,” ujarnya.










