Komparasi Kutukan Sumber Daya: Nikel vs Gas
Karakteristik industri Blok Masela justru lebih rentan memicu ketimpangan dibandingkan tambang nikel di Weda Bay. Berikut adalah perbandingannya:
| Indikator | Weda Bay (Nikel, Maluku Utara) | Blok Masela (Gas LNG, Maluku) |
| Sifat Industri | Ekstraktif, Padat Modal, Darat | Ekstraktif, Padat Modal, Lepas Pantai |
| Kebutuhan SDM | Menyerap pekerja kasar cukup besar | Menuntut sertifikasi migas global tingkat tinggi |
| Efek Berantai | Pabrik peleburan (smelter) di lokasi | Gas langsung dikirim, minim hilirisasi lokal |
| Risiko Enklaf | Pabrik terisolasi dari pemukiman warga | Operasi utama di laut, warga di darat gigit jari |
Pada fase operasional nanti, Blok Masela hanya membutuhkan sedikit tenaga kerja. Jika tenaga kerja Tanimbar dan Maluku pada umumnya tidak memiliki kualifikasi insinyur perminyakan, ahli welding bawah laut, atau ahli geofisika, maka janji “penyerapan ribuan tenaga kerja” hanyalah fatamorgana. Tenaga kerja luar daerah akan datang, tinggal di camp eksklusif, mengirimkan gajinya ke keluarga mereka di Jawa atau luar negeri, dan tidak berbelanja di pasar tradisional Saumlaki. Sindrom “halaman belakang” ini sangat nyata.
Momentum atau Sekadar Seremoni?
Agar groundbreaking besok tidak hanya menjadi pesta kembang api bagi investor Jepang dan Jakarta, pemerintah daerah dan pusat harus memutus mata rantai eksploitasi ini. Pertama, Dana Bagi Hasil (DBH) migas tidak boleh hanya digunakan untuk membangun kantor pemerintahan atau monumen megah. Uang tersebut harus direinvestasi secara agresif ke pendidikan vokasi, beasiswa spesialis migas, dan perbaikan gizi masyarakat. Kedua, regulasi mengenai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) harus mencakup “Komponen Daerah”, memaksa Inpex untuk mengintegrasikan pengusaha lokal Tanimbar dan Ambon ke dalam rantai pasok logistik utama mereka, bukan sekadar urusan kebersihan dan katering. Groundbreaking Blok Masela adalah momentum raksasa. Namun, tanpa intervensi negara untuk memihak warga lokal, proyek ini hanya akan mengulang sejarah pahit eksploitasi Nusantara: wilayah timur yang dikeruk buminya, sementara hasil buminya memperkaya mereka yang duduk jauh di barat.










