Infrastruktur pendukung juga masih tertatih. Meski ASDP baru saja membuka rute baru ke Kepulauan Tanimbar, kapasitas pelabuhan, jalan raya, hingga layanan utilitas dasar di Saumlaki belum sepenuhnya siap menampung lonjakan aktivitas industri berat. Jika rantai pasok logistik sepenuhnya dikendalikan dari Surabaya atau Jakarta, Tanimbar hanya akan menjadi “halaman belakang” tempat alat berat bersandar, bukan pusat nilai tambah ekonomi.
Euforia, Harapan, dan Cemasnya Publik
Di level akar rumput, sentimen publik terbelah antara euforia dan skeptisisme. Bagi 23 keluarga pemilik lahan di Desa Lermatang, proses ganti rugi yang dieksekusi via transfer langsung oleh INPEX tanpa riak konflik adalah sebuah kemenangan kecil. Media lokal menyebut momen ini dipenuhi “air mata kebahagiaan” setelah 27 tahun penantian panjang.
Namun, di luar Tanimbar, kekhawatiran mengintai. Wilayah tetangga mulai menyuarakan hak mereka. Tokoh masyarakat yang juga mantan perwira menengah Polri asal Maluku Barat Daya, AKBP (Purn) Adolf Beay, secara terbuka menuntut agar Blok Masela dilihat sebagai aset Maluku secara keseluruhan, bukan sekadar milik satu kabupaten, demi mencegah ketimpangan ekonomi antar-pulau.
Tantangan terberat justru datang dari desain makro proyek ini. Eksekusi konstruksi masih dibayangi lambannya infrastruktur gas domestik. Tanpa pipa transmisi dan pembeli domestik yang siap, Blok Masela pada akhirnya akan kembali bertumpu pada pasar ekspor.










