BeritaDaerahOpiniUtama

Groundbreaking Blok Masela: Momentum Ekonomi atau Sekadar Seremoni?

4
×

Groundbreaking Blok Masela: Momentum Ekonomi atau Sekadar Seremoni?

Sebarkan artikel ini
Pengamat Publik, Yansi Latupeirissa

Cermin Retak dari Weda Bay, Maluku Utara

Jika Maluku ingin melihat proyeksi masa depannya, lihatlah apa yang terjadi di Maluku Utara hari ini dengan proyek hilirisasi nikel Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Di atas kertas, Maluku Utara adalah keajaiban ekonomi. Pada kuartal II 2025, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara meroket hingga 32,09% — tertinggi di Indonesia, bahkan nyaris menyentuh anomali global. Pertumbuhan gila-gilaan ini didorong sepenuhnya oleh sektor pertambangan dan pengolahan logam dasar di Weda Bay dan Pulau Obi. Namun, mari kita bedah anatomi pertumbuhan tersebut: Pekerjaan Berketerampilan Rendah vs Tinggi: Sektor pertambangan di Maluku Utara menyumbang lebih dari 60% PDRB, tetapi *hanya menyerap kurang dari 5% tenaga kerja lokal*. Mengapa? Karena posisi strategis, manajerial, dan teknis diisi oleh pekerja ahli dari luar daerah (termasuk tenaga kerja asing), sementara warga lokal terjebak di sektor informal dengan upah yang jauh lebih rendah. Paradoks Kemiskinan: Dengan pertumbuhan 32%, logika normalnya kemiskinan akan terhapus. Nyatanya, data BPS Maluku Utara pada September 2025 mencatat persentase kemiskinan masih berada di angka *5,59%* (sekitar 74 ribu jiwa). Penurunan angka kemiskinan berjalan sangat lamban dan tidak sebanding dengan ledakan triliunan rupiah dari ekspor nikel. Ketimpangan yang Melebar: Keuntungan industri tambang terkonsentrasi pada segelintir korporasi. Rasio Gini di daerah-daerah tambang justru berisiko melebar, menunjukkan bahwa orang kaya (investor/pemilik modal) semakin kaya dengan sangat cepat, sementara masyarakat pesisir dan pedesaan hanya mendapat “remah-remah” dari bisnis katering, indekos, atau jasa laundry.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *