Oleh: Yanci Latupeirissa
Setelah mangkrak lebih dari seperempat abad, megaproyek gas abadi Blok Masela akhirnya dipaksa bangun dari tidur panjangnya. Pada 16 Juli 2026, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menekan tombol sirine di Desa Lermatang, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Namun, di balik megahnya tenda VIP dan deru baling-baling helikopter kepresidenan, sebuah pertanyaan fundamental menggantung di langit Laut Arafura: apakah peletakan batu pertama ini benar-benar titik tolak ekonomi Maluku, atau sekadar seremoni politik untuk memoles citra ketahanan energi nasional?
Panggung Seremoni di Ujung Timur
Persiapan menuju 16 Juli nyaris menyerupai operasi militer. Sedikitnya 93 ton logistik— mulai dari karpet, tenda, hingga mesin pendingin ruangan—diterbangkan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Saumlaki. Di darat, Satgas Teritorial TNI telah menyisir akses jalan, sementara tiga helipad disiapkan khusus untuk pendaratan VVIP. Pangdam XV/Pattimura, melalui Irdam Brigjen TNI Muhammad Ali, turun langsung mengawal jalannya acara.
Acara ini tidak main-main. Petinggi SKK Migas, jajaran kementerian ekonomi, hingga CEO INPEX Corporation, Takayuki Ueda, dipastikan hadir. Di atas kertas, pemerintah merayakan rampungnya pembebasan lahan seluas 662 hektar di Desa Lermatang.










