Angka Raksasa dan Janji Manis Ekonomi
Nilai strategis Blok Masela memang tak terbantahkan. Dengan total investasi menyentuh angka US$ 20,9 miliar (sekitar Rp 320 – 352 triliun), ini adalah salah satu proyek energi terbesar dalam sejarah Republik. Proyek ini ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton Liquefied Natural Gas (LNG) per tahun, memosisikan Maluku sebagai lumbung energi masa depan Indonesia.
Dampak ekonomi yang dijanjikan bak angin surga. Pemerintah dan INPEX memproyeksikan penyerapan hingga 10.000 tenaga kerja selama masa konstruksi (20262029). Kehadiran puluhan ribu pekerja ini secara teoritis akan memicu multiplier effect: menggeliatnya bisnis katering, penginapan, transportasi, hingga ritel di Tanimbar. Namun, teori kerap kali tersandung realitas di lapangan.
Gagap Kesiapan di Garis Depan
Janji 10.000 lapangan kerja menjadi ujian nyata bagi kesiapan daerah. Pertanyaannya tajam: berapa persen dari kuota tersebut yang bisa diisi oleh putra-putri Maluku? Mengingat industri hulu migas menuntut spesifikasi keahlian yang sangat tinggi (highskill), ketiadaan institusi vokasi migas berstandar internasional di Maluku menjadi lubang besar.
Kepanikan ini terlihat di gedung dewan. Hanya beberapa hari menjelang groundbreaking, DPRD Provinsi Maluku baru kelabakan mempercepat pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Konten Lokal. Sebuah langkah yang seharusnya sudah dikunci dua atau tiga tahun lalu.










