Di tengah kondisi demikian, masyarakat tidak seharusnya dibiarkan menghadapi ancaman kabut asap sendirian.
Pedagang di pinggir jalan, pengemudi kendaraan, pekerja lapangan, pelajar, dan kelompok masyarakat lainnya tetap membutuhkan perlindungan ketika harus beraktivitas. Bagi sebagian warga, mengurangi paparan asap atau menghentikan pekerjaan bukanlah pilihan yang mudah karena kebutuhan ekonomi tetap harus dipenuhi.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu menyediakan informasi kualitas udara yang mudah diakses, memperkuat pelayanan kesehatan, menyiapkan perlindungan bagi kelompok rentan, serta memberikan panduan yang jelas mengenai penggunaan masker dan pembatasan aktivitas luar ruang sesuai tingkat pencemaran.
Kita juga perlu menegaskan bahwa pembagian masker merupakan langkah perlindungan sementara, bukan penyelesaian utama. Sumber kebakaran harus dicegah, api harus dikendalikan, dan masyarakat harus dilindungi dari paparan asap.
Jangan sampai rakyat harus menanggung risiko kesehatan akibat bencana lingkungan, sementara upaya pencegahan dan penanganannya tidak berjalan sebanding dengan besarnya ancaman.
Bioenergi Sawit.
Kemandirian Energi atau Tantangan Baru bagi Lingkungan?
Di tengah ancaman perubahan iklim dan karhutla, pemerintah juga mengembangkan kebijakan bioenergi, termasuk pemanfaatan kelapa sawit sebagai bahan baku energi. Kebijakan ini memiliki tujuan strategis, seperti mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, memperkuat ketahanan energi, dan mengembangkan sumber energi alternatif.










