BeritaDaerahOpiniUtama

DI ANTARA KEMARAU PANJANG, EL NIÑO, KARHUTLA, DAN AMBISI BIOENERGI SAWIT: KESEHATAN RAKYAT JANGAN JADI KORBAN PEMBANGUNAN

36
×

DI ANTARA KEMARAU PANJANG, EL NIÑO, KARHUTLA, DAN AMBISI BIOENERGI SAWIT: KESEHATAN RAKYAT JANGAN JADI KORBAN PEMBANGUNAN

Sebarkan artikel ini
Samil Rahareng

Namun, kita perlu membedakan antara faktor iklim dan faktor manusia. El Niño bukan satu-satunya penyebab karhutla. Sumber api, kondisi lahan, tata kelola kawasan, serta efektivitas pengawasan turut menentukan apakah suatu wilayah mengalami kebakaran dan seberapa luas dampaknya.

Karena itu, penanganan karhutla tidak boleh hanya dilakukan setelah kebakaran meluas. Pemerintah harus memperkuat pemantauan titik panas, sistem peringatan dini, kesiapan petugas, pengelolaan lahan rawan kebakaran, dan penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal.

Pertanyaannya, apakah seluruh langkah tersebut telah berjalan secara optimal, ataukah kita masih terjebak dalam pola penanganan yang berulang setiap kali musim kemarau datang?

Pertanyaan ini bukan tuduhan, melainkan evaluasi yang harus dijawab melalui data, transparansi, dan pertanggungjawaban publik.

Baca Juga  Pemkot Ambon Anggarkan Seragam dan Baju Pelindung Api untuk Damkar pada 2027

Kabut Asap dan Ancaman Kesehatan Masyarakat

Persoalan karhutla menjadi semakin serius ketika dampaknya meluas hingga ke kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan RI, melalui informasi mengenai kesiapsiagaan menghadapi kabut asap akibat karhutla, mengingatkan pentingnya perlindungan kesehatan ketika kualitas udara memburuk.

Asap kebakaran dapat mengandung partikel halus, termasuk PM2.5, yang mampu menembus jauh ke dalam saluran pernapasan dan paru-paru. Paparan tersebut dapat memicu gangguan pernapasan, memperburuk penyakit yang sudah ada, serta meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan penyakit tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *