Ketika sebuah program pengembangan SDM menimbulkan risiko fatal, evaluasi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban moral dan administratif. Dari perspektif manajemen risiko, program pelatihan seharusnya meminimalkan bahaya, bukan menambah beban fisik yang tidak relevan dengan kompetensi kerja yang dituju.
Pada bagian ini terlihat bahwa penilaian efektivitas pelatihan tidak cukup memakai ukuran kedisiplinan atau semangat pengabdian. Pelatihan yang baik harus ditimbang berdasarkan manfaat, relevansi pekerjaan, keamanan, dan dampaknya terhadap kinerja organisasi. Jika sebuah metode pelatihan menghasilkan trauma, penolakan publik, atau korban jiwa, maka legitimasi manajerialnya melemah meskipun tujuan normatifnya terdengar mulia.
Rekomendasi Desain Ulang
Model yang lebih tepat adalah pelatihan berbasis kompetensi dengan pendekatan andragogi, studi kasus, simulasi bisnis, mentoring, dan praktik lapangan di koperasi yang berhasil. Materi inti perlu mencakup akuntansi koperasi, manajemen kas, tata kelola, kepemimpinan partisipatif, komunikasi organisasi, pemasaran digital, manajemen konflik, dan inovasi layanan.
Unsur disiplin tetap bisa dipertahankan, tetapi diterjemahkan sebagai ketepatan waktu, akuntabilitas laporan, transparansi, dan konsistensi pelayanan kepada anggota, bukan dalam bentuk latihan yang identik dengan kultur militer. Selain itu, kementerian teknis yang paling relevan semestinya memimpin desain pelatihan bersama akademisi, praktisi koperasi, dan pelaku usaha yang berpengalaman.










