Salah satu persoalan yang mendapat perhatian adalah pengelolaan sampah. Pemerintah Kota Ambon masih menghadapi tantangan dalam memastikan sampah dapat ditangani secara efektif, terutama di kawasan permukiman dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau.
Wattimena menilai, pola pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pengumpulan dan pengangkutan. Diperlukan pendekatan berbasis teknologi agar sampah dapat dikurangi serta diolah sejak dari sumbernya. “Kita tidak bisa hanya mengurus sampah dengan mengangkut dan membuang. Kita membutuhkan intervensi teknologi untuk membantu manusia dalam mengelola sampah,” katanya.
Kondisi geografis Kota Ambon menjadi salah satu pertimbangan dalam mencari pola pengelolaan yang lebih efektif. Sejumlah permukiman berada di wilayah perbukitan dan hanya dapat dijangkau melalui jalan sempit maupun jalan setapak, sehingga kendaraan pengangkut sampah tidak selalu dapat masuk secara optimal.
Untuk itu, pemerintah membuka peluang bagi perguruan tinggi membantu menghasilkan teknologi pengolahan sampah berskala lingkungan yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. “Kalau ada teknologi yang bisa digunakan untuk 10 atau 20 rumah tangga, maka sampah dapat ditangani dari sumbernya. Ini akan membantu mengurangi beban pengelolaan sampah di tingkat kota,” jelasnya.










