Di balik antusiasme itu muncul juga sentimen negatif dan kritik sejumlah warganet ke pemerintahaan Prabowo Subianto.
Sejumlah akun mengaku tak mau berpartisipasi dalam perebutan tiket HUT RI. Hal itu sebagai bentuk protes mereka atas permasalahan politik, ekonomi dan hukum yang terjadi di era Prabowo.
Sejarawan Universitas Nasional Andi Achdian berkata tingginya antusias warga mendapat tiket HUT RI tidak berkorelasi dengan kepuasan rakyat ke pemerintah.
“Setiap orang pasti senang menjadi bagian ritual upacara 17 Agustus. Itu momen kegembiraan penting bagi seluruh rakyat Indonesia dan penghormatan atas perjuangan kemerdekaan. Tapi, bukan berarti mereka puas dengan pemerintah atau penguasa sekarang, yang semakin berjarak dengan rakyat,” ujar Andi.
Senada, sejarawan BRIN, Asvi Warman Adam juga memandang antusiasme ratusan ribu yang mendaftar tidak berhubungan dengan rasa nasionalisme.
“Mensesneg dengan bangga menyampaikan ada ratusan ribu orang yang mendaftar secara online. Artinya masyarakat sangat sangat antusias. Padahal mungkin mereka ingin membawa pulang bingkisan Istana, cukup mahal biasanya,” ujar Asvi.
Dia juga menyoroti perlombaan mendapatkan undangan HUT RI.
“Yang baru itu war ticket itu. Kehadiran di Istana itu diperlombakan. Selama ini perlombaan itu pada tingkat RT/RW, seperti lomba makan kerupuk, panjat pinang. Kini lomba masuk Istana,” tambahnya.










