BeritaDaerahOpiniPARIWISATAPemerintahanUtama

Pariwisata Desa Geser: “Benarkah Pemerintah Kehabisan Anggaran, atau Kehabisan Kemauan?”

6
×

Pariwisata Desa Geser: “Benarkah Pemerintah Kehabisan Anggaran, atau Kehabisan Kemauan?”

Sebarkan artikel ini

Bentuk kelompok sadar wisata yang benar-benar aktif, siapkan pelatihan pemandu wisata lokal, dorong homestay milik warga, buat kalender budaya tahunan, dan manfaatkan teknologi digital sebagai sarana promosi. 

Langkah-langkah seperti ini tidak selalu membutuhkan biaya besar, tetapi membutuhkan kemauan untuk memulai.

Yang tidak kalah penting, pembangunan pariwisata di Desa Geser harus memiliki pagar yang jelas. 

Pariwisata tidak boleh menggerus identitas masyarakat. Nilai-nilai agama, adat istiadat, dan budaya lokal harus menjadi fondasi utama. 

Wisatawan datang untuk menghargai budaya Geser, bukan mengubahnya. Keberhasilan pariwisata bukan ketika Desa Geser berubah menjadi “Bali baru”, tetapi ketika Desa Geser tetap menjadi Geser dengan segala keunikan dan nilai yang dimilikinya.

Baca Juga  Persiapan POPMAL dan PON jadi perhatian Pemprov Maluku, Gubernur: Cabor Atletik Selalu Beri Kontribusi bagi Daerah 

Pada akhirnya, masyarakat berhak mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada pemerintah daerah:

Jika gagasan yang lahir dari masyarakat sendiri terus diabaikan dengan alasan keterbatasan anggaran, lalu kapan pemerintah akan benar-benar menunjukkan kesungguhannya membangun Desa Geser?

Karena sejarah menunjukkan bahwa banyak daerah maju bukan karena memiliki anggaran yang melimpah, melainkan karena memiliki pemimpin yang mau mendengar, berani berkolaborasi, dan percaya bahwa ide-ide besar sering kali lahir dari masyarakatnya sendiri. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *