Oleh: Siti Khoiriyah Hatala
Ketika pemerintah berbicara tentang pembangunan, pariwisata hampir selalu masuk dalam daftar prioritas. Pariwisata disebut sebagai penggerak ekonomi, pembuka lapangan kerja, sekaligus wajah sebuah daerah.
Namun, pertanyaan pentingnya adalah: apakah pembangunan pariwisata benar-benar dibangun bersama masyarakat, atau hanya menjadi slogan yang indah di atas kertas?
Di Desa Geser, Kecamatan Seram Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), sejumlah generasi muda telah berulang kali menawarkan gagasan pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan.
Konsep yang mereka bawa bukan sekadar membangun objek wisata, melainkan membangun ekosistem yang menjaga lingkungan, melestarikan adat istiadat, memperkuat nilai-nilai agama, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Mereka mengusulkan festival budaya tahunan, pelestarian bahasa daerah, dokumentasi sejarah dan tradisi, pelatihan seni budaya, pemberdayaan perajin lokal, promosi digital, hingga wisata budaya yang tetap menghormati norma adat.
Semua itu dirancang agar masyarakat menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton.
Namun, jawaban yang diterima hampir selalu sama: “Belum ada anggaran.”
Pertanyaannya, benarkah masalahnya hanya anggaran? Ataukah pemerintah belum memiliki keberanian untuk menjadikan gagasan masyarakat sebagai prioritas pembangunan?










