Oleh: Basyir Tuhepaly, S.Pd. : Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN A.M. Sangadji Ambon
Gambar yang dirilis Pemerintah Kota Ambon melalui Dinas Pendidikan Kota Ambon mengenai penerapan “Metode Baru yang Efektif untuk Meningkatkan Kemampuan Berhitung Cepat bagi Anak-Anak Sekolah di Kota Ambon” tidak semestinya dibaca sebagai kebijakan administratif biasa.
Jika dilihat dari perspektif pendidikan kritis yang dikembangkan oleh Paulo Freire, Henry Giroux, dan bell hooks, kebijakan tersebut dapat dibaca sebagai upaya mendorong perubahan cara belajar yang selama ini dinantikan di ruang-ruang kelas.
Pendidikan kritis mengajarkan bahwa pendidikan harus menjadi ruang untuk membangun kesadaran, bukan sekadar ruang untuk menanamkan kepatuhan. Selama ini, pembelajaran berhitung di tingkat sekolah dasar kerap terjebak pada hafalan dan drilling yang monoton. Peserta didik sering diarahkan untuk menghafal rumus dan prosedur, tetapi belum selalu diajak memahami nalar di balik angka.
Akibatnya, matematika mudah dipersepsikan sebagai sesuatu yang menakutkan, bukan sebagai cara berpikir logis yang menyenangkan.
Dalam konteks tersebut, penerapan metode berhitung cepat di Kota Ambon patut dilihat sebagai sebuah ikhtiar untuk membangun kembali kepercayaan diri peserta didik dalam berhadapan dengan angka. Ketika pemerintah daerah berani memperkenalkan pendekatan baru, sesungguhnya terdapat pesan penting bahwa lembaga pendidikan harus terus beradaptasi dengan kebutuhan dan karakter peserta didik.















