Dikatakan bahwa keluarga tidak menginginkan hal lain selain keadilan bagi almarhum.
“Pihak keluarga hanya ingin mencari keadilan. Kami berharap aparat penegak hukum dan pemerintah memahami kondisi kami sebagai warga negara yang menginginkan hukum ditegakkan tanpa membeda-bedakan siapa pun,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, anak almarhum, Desly Rumatora, turut menyampaikan kronologi keberangkatan ayahnya menuju Maluku Tenggara sebelum peristiwa pembunuhan terjadi.
Kata Desly, pada 19 April 2026 almarhum berencana pulang ke Kei untuk mengikuti Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar yang akan dilaksanakan pada 23 April 2026.
“Beliau sebagai ketua partai tentu harus kembali ke daerah asalnya karena memimpin Partai Golkar dan sudah merencanakan berada di sana sebelum Musda dilaksanakan,” ujarnya.
Desly menjelaskan bahwa ayahnya berangkat dari Jakarta menuju Ambon bersama sang ibu. Namun karena kesulitan mendapatkan tiket menuju Langgur, hanya almarhum yang melanjutkan perjalanan setelah memperoleh satu tiket yang dibatalkan penumpang lain.
“Papa saya mendapat informasi bahwa ada satu tiket yang dicancel. Karena itu beliau melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat Lion Air menuju Langgur,” katanya.










