Namun setibanya di Bandara Karel Sadsuitubun Langgur, kedua pelaku diduga telah menunggu kedatangan almarhum.
“Bagaimana mereka bisa tahu almarhum papa saya tiba di sana dan bagaimana mereka bisa membawa senjata tajam masuk ke area bandara? Itu yang menjadi pertanyaan besar kami sampai hari ini,” ungkapnya.
Desly mengatakan ayahnya mengalami lebih dari 10 luka tusukan dan meninggal dunia akibat pendarahan pada bagian leher.
“Papa saya pulang ke Maluku Tenggara bukan untuk liburan, tetapi untuk mengikuti Musda Partai Golkar karena beliau adalah Ketua DPD II Partai Golkar Maluku Tenggara,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa saat ayahnya mulai memimpin Golkar pada 2019, partai tersebut belum memiliki kursi di DPRD Maluku Tenggara.melalui perjuangan dan pengorbanannya, Golkar akhirnya berhasil memperoleh dua kursi.
“Papa saya datang dan membangun kembali Partai Golkar menggunakan biaya sendiri sampai akhirnya Golkar memiliki dua kursi di Maluku Tenggara. Itu merupakan prestasi ayah saya. Dengan adanya kejadian ini saya hanya ingin keadilan karena kasus ini ada kaitannya dengan kasus-kasus yang sebelumnya terjadi,” tutup Desly. ***










