Ironisnya, ketika sejumlah tanaman mulai mati, perhatian terhadap pemeliharaan justru menjadi sorotan.
Apalagi, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena sebelumnya telah meminta Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (DLHP) bersama jajaran untuk menjaga dan merawat tanaman gadihu.
Pesan tersebut semestinya tidak berhenti sebatas imbauan, tetapi harus diwujudkan melalui langkah nyata di lapangan, sehingga upaya merawat tanaman gadihu benar-benar berjalan dan memberikan hasil yang dapat terlihat dan dirasakan masyarakat.
Padahal, gerakan penghijauan tersebut bukan program sekali jalan. Pada Februari 2026, Pemkot Ambon juga mencanangkan sejumlah gerakan lingkungan, termasuk Gerakan Tanam Gadihu dan Gerakan Bersama Rawat Alam Kota (GEBRAK)
Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut justru dapat menimbulkan kesan bahwa keberhasilan program lebih banyak diukur dari berapa banyak tanaman yang ditanam, bukan berapa banyak yang berhasil dirawat hingga tumbuh.
Terlebih, gadihu dipilih karena merupakan tanaman khas Maluku yang dinilai mampu beradaptasi dengan kondisi cuaca dan relatif mudah dirawat.
Jika tanaman yang disebut mudah dirawat saja bisa mati karena kurang perhatian, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya kondisi tanamannya, tetapi juga keseriusan dalam pemeliharaannya.










