“Budaya harus dilestarikan. Anak muda Papua jangan pernah malu pakai pakaian adat. Kita ini hidup di tanah yang sangat kaya budaya, jadi harus bangga,” katanya.
Hengki juga menceritakan perjalanan pendidikannya. Ia mengaku sempat menempuh kuliah di salah satu kampus cabang di Kabupaten Deiyai sebelum akhirnya memutuskan pindah ke Jayapura untuk mencari pengalaman dan tantangan baru.
“Awalnya Jayapura terasa asing bagi saya. Lingkungan baru, orang-orang baru. Tapi lama-lama saya mulai terbiasa dan bisa menyesuaikan diri,” ungkapnya.
Seiring waktu, rasa percaya dirinya semakin tumbuh. Ia bahkan tetap konsisten mengenakan pakaian adat di tengah kehidupan kota tanpa rasa ragu. “Sekarang saya sudah biasa. Saya pakai ini bukan untuk cari perhatian, tapi memang ini bagian dari diri saya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Hengki mengajak seluruh generasi muda Papua untuk berani menunjukkan jati diri, baik melalui bahasa, adat istiadat, maupun cara berpakaian.
Ia berharap semangat mencintai budaya tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. “Kalau kita sendiri malu, budaya ini bisa hilang. Jadi mulai dari hal kecil saja, seperti pakai pakaian adat, itu sudah bagian dari melestarikan,”pungksnya. *










