MENYIKAPI insiden dugaan ujaran rasis “monyet” kepada warga Maluku di peristiwa konflik Matraman, Jakarta, Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Ambon menyampaikan sikap resmi.
Ketua Umum PC IMM Kota Ambon, Basyir Tuhepaly, mengecam keras setiap bentuk penghinaan berbasis suku dan daerah.
“Kalau kita dianggap ‘monyet’ oleh oknum warga Jakarta, maka berikan kekuatan Federasi kepada Maluku di bawah NKRI. Dari rasis ke federasi. Ini bukan ajakan memisahkan diri, ini adalah bentuk protes karena harga diri kami diinjak,” tegas Basyir.
PC IMM Kota Ambon juga menyampaikan imbauan kepada masyarakat Maluku terkait simbol kebangsaan.
“Kami meminta kepada Warga Maluku untuk menahan diri. Jangan kibarkan Bendera Merah Putih terlebih dahulu sebelum Presiden Republik Indonesia memberikan klarifikasi resmi terkait diksi ‘monyet’ untuk orang Ambon dalam kejadian konflik Matraman Jakarta,” ujar Basyir.
Basyir menegaskan, imbauan ini merupakan bentuk protes konstitusional. Tujuannya agar negara hadir dan memberikan kepastian hukum serta perlindungan bagi seluruh warga negara tanpa diskriminasi.
“Maluku adalah bagian dari NKRI sejak awal. Kami menuntut Presiden bersuara, aparat menindak pelaku ujaran rasis sesuai UU No.40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, dan masyarakat menjaga persatuan,” pungkasnya.










