Ia menilai tantangan yang dihadapi Indonesia,termasuk Provinsi Maluku, terus berkembang seiring perubahan zaman. Karena itu, regenerasi kepemimpinan harus menghasilkan figur-figur yang visioner,dan berintegritas.
Keberhasilan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang memimpin dan menggerakkan pembangunan. Oleh sebab itu, kaderisasi harus menjadi investasi jangka panjang untuk mencetak pemimpin yang memiliki kompetensi sekaligus karakter yang kuat.
“HMI selama ini telah melahirkan banyak tokoh yang memberikan kontribusi bagi bangsa. Saya berharap proses kaderisasi ini terus menjaga tradisi tersebut dengan menghadirkan kader-kader yang mampu memberikan karya nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh peserta memanfaatkan setiap tahapan pelatihan sebagai proses pembelajaran yang membentuk pola pikir kepemimpinan, bukan sekadar mengejar kelulusan dalam jenjang kaderisasi.
Kualitas seorang pemimpin tercermin dari kemampuannya menghadirkan gagasan, menyelesaikan persoalan, serta mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Maluku membutuhkan generasi muda yang memiliki keberanian mengambil tanggung jawab, mampu berkolaborasi, dan siap menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan pembangunan. Saya berharap LK III ini melahirkan pemimpin-pemimpin yang tidak hanya berhasil secara pribadi, tetapi juga mampu membawa perubahan positif bagi daerah dan Indonesia,” tegasnya










