Kala itu, Djoko mengungkapkan total kapasitas produksi gas dari Blok Masela mencapai sekitar 1.200 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 MMSCFD telah dialokasikan untuk kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.
“Masela itu kan sekitar total 1.200-an [MMSCFD], masih ada spare 250 [MMSCFD] yang untuk kalau kita butuh untuk nanti kita bikin apa lagi. Akan tetapi, yang lain sudah; dalam negeri dan luar negeri sudah. 1.000-an MM per hari sudah,” ujar Djoko kepada awak media, di sela IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026).
Untuk industri pupuk, penyaluran gas akan dilakukan melalui pipa, sedangkan sebagian volume lainnya akan dipasarkan dalam bentuk gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG).
Ekspor ke Jepang
Djoko menambahkan salah satu pembeli LNG dari Blok Masela berasal dari Jepang dengan permintaan mencapai sekitar 2 juta hingga 2,5 juta ton per tahun (mtpa).
Selain itu, kata Djoko, terdapat pembeli lain dari perusahaan internasional; Eni SpA hingga BP Plc—tetapi dia belum mengungkapkan volume permintaannya.
“Selain Jepang ada juga, ada dua, Eni Spa, BP trader,” katanya.
Untuk diketahui, Lapangan Abadi Masela atau disebut juga proyek LNG Abadi adalah salah satu proyek strategis nasional (PSN) sekaligus proyek hulu migas terbesar di Indonesia saat ini.










